Tuesday, 9 December 2014

makalah pemikiran kearah aplikasi psikologi pendidikan



PEMIKIRAN KE ARAH APLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR
(Implikasi teori teori belajar psikologis behavioristik)
Di susun guna memenuhi tugas
mata kuliah : Psikologi Pendidikan




Di susun oleh :


1. M. Kustiyono   (NIM : 113143)
2. Dwi Haryanti    (NIM : 113225)

FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
2014

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr. wb
         Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karna dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi ksehatan dan ksempatan untuk mnyelesaikan makalah ini tidak lupa kami ucapkan terimakasih pada teman teman yang telah memberikan dukungannya dalam mnyelesaikan makalah ini terutama pada Ka’anto, M.S.I selaku dosen yang selalu memberikan motifasi pada kami.
Kami kelompok 9  mnyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan smoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagy pembaca dan teman-teman. Amin...




                                                                                                 Pati,   desember 2014
                                                                                                  Penulis ..,



BAB I
PENDAHULUAN
A.             Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons, maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini, terlihat bahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru.
Pembelajaran dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks, tanpa mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut apa yang ditentukan.

B.              Rumusan Masalah

         Dalam makalah ini terdapat rumusan masalah, yaitu sebagai berikut :
  1.              Bagaimana pengertian teori belajar behavioristik ?

2.               Bagaimana implikasi/aplikasi teori belajar behavioristik ?
3.               Bagaimana cirri-ciri teori belajar behavioristik ?
4.               Bagaimana prinsip-prinsip teori belajar behavioristik ?
5.               Bagaimana kelebihan dan kekurangan teori belajar behavioristik ?





A.             Tujuan Penulisan
         Adapun tujuan penulisan dari rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :
1.               Untuk mengetahui sberapa dalam teori belajar behavioristik,..
2.               Untuk memahami aplikasi-aplikasi teori belajar behavioristik…,,
3.               Untuk mengetahui cirri-ciri teori belajar behavioristik…,,
4.               Untuk menguasai berbagai prinsip-prinsip teori belajar behavioristik..,,
5.               Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan sistem belajar behavioristik…,,

                                                                                                         





BAB II
PEMBAHASAN

1.               Pengertian teori belajar behavioristik
         Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori ini memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Salah satu ciri dari teori behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, sehingga hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
         Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Sehingga teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar[1]

2.         Implikasi/aplikasi teori belajar behavioristik
Berangkat dari asumsi bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons, maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan (transfer of knowledge) oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini, terlihat bahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Jika terjadi perubahan perilaku yang tidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikan ganjaran.
Pembelajaran dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks, tanpa mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut apa yang ditentukan.

Mengacu pada berbagai argumentasi yang telah dipaparkan, maka secara ringkas implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a.       Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa
b.      Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.
c.       Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.
d.      Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.
e.       Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
f.       Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil test dan menuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Dengan demikian, evaluasi lebih ditekankan pada hasil dan bukan pada proses, atau sintesis antara keduanya

A.      Koneksionisme
Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an yang menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Berdasarkan eksperimennya, Thorndike menyimpulkan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya, koneksionisme juga disebut “S-R Nond Theory” dan “S-R Psychology of Learning”. Di samping itu, teori ini juga terkenal dengan sebutan “Trial and Error Leraning”. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan.
Dari penelitiannya itu, Thorndike menemukan hukum-hukum sebagai berikut:
(1)   Law of effect yaitu jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dengan respons akan semakin  kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan (menggangu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respons tersebut.
(2)   Law of readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya merupakan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan conductions unit (satuan perantaraan). Unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Jelas, hukum ini semata-mata bersifat spekulatif yang menurut Reber (1988), hanya bersifat historis.
(3)   Law of exercise (hukum pelatihan) ialah generalisasi in law of use and law of disuse. Menurut Hilgard & Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau digunakan maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (law of use). Sebaliknya, jika perilaku tadi tidak sering dilatih atau tidak digunkan maka perilaku tersebut akan terlupakan atau sekurang-kurangnya akan menurun (law of disuse).[2]




B.      Pembiasaan Klasik
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel pada tahun 1909. Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya reflek tersebut (Terrace, 1973).
Dalam eksperimennya, Pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan Unconditioned-response (UCR). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari, sedangkan respons  yang dipelajari itu sendiri disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari, dan respons yang tidak dipelajari itu disebut UCR.
Berdasarkan eksperimen Pavlov menyimpulakan bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respons. Apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi (CS) cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respons atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini CR.[3]

C.      Pembiasaan Perilaku Respons
Teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) ini diciptakan oleh Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904). Tema pokok yang mempengaruhi karya-karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri (Bruno, 1987).
Operant” adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Rober, 1988). Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce. Reinforce sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kamungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu.
Dalam eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner box”. Eksperimen yang dilakukan Skinner mirip sekali dengan trial and error learning yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan satisfaction/kepuasan, sedangkan menurut Skinner fenomena tersebut melibatkan reinforcement/penguatan.
Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda, yakni: law of operant conditioning dan law of operant extinction. Menutut law of operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of operant extinction, jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku  tersebut akan menurun atau bahkan musnah (Hintzman, 1987). Hukum-hukum ini pada dasarnya sama saja dengan hukum-hukum yang melekat dalam proses belajar menurut teori pembiasaan yang klasik.[4]
Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan behavior. Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.[5]
Teori-teori belajar hasil eksperimen Thorndike, Skinner, dan Pavlov di atas, jika renungkan dan bandingkan dengan teori dan juga riset psikologi kognitif, mengandung banyak kelemahan, diantaranya:
a.       Proses itu dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya;
b.      Proses belajar itu bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki self-direction (kemampuan mengarahkan diri) dan self control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, dan karenannya ia bisa menolak merespons jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati;
c.       Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dengan hewan.[6]

3.      Cirri-ciri teori belajar behavioristik

Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.





4.      Prinsip prinsip teori belajar behavioristik
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
a.       Obyek psikologi adalah tingkah laku
b.      Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek
c.       Mementingkan pembentukan kebiasaan

         Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Menurut John Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman.
         Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi. Pikiran dan perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu.
Kesulitan dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan.
perilaku adalah hasil pengalaman dan prilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya
a.                Memperkuat tingkah laku
         Dalam usaha mengubah tingkah laku yang tak di inginkan, di adakan penguatan tingkah laku yang di ingnkan , misalnya dengan kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, melamun, dan hilir mudik.[7]
b.               Ekstingsi
         Ekstingsi yaitu kegiatan atau suatu usaha membuang/meniadakan peristiwa peristiwa penguat tingkah laku , guru guru sering mengalami kesulitan mengadakan eksiting karena mereka harus belajar mengabaikan suatu hal , tentu saja ada jenis jenis tingkah laku yang tak dapat di abaikan oleh guru guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid. Eksiting berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan kesana kemari, maka perubahan interaksi guru-guru murid, guru akan menghentikan tingkah laku murid tersebut.
c.                Perubahan lingkungan stimuli
         Beberapa tingkah laku dapat dikendalikan oleh perubahan kondisi stimulis yang mempengaruhi tingkah laku itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh di luar kelas , ketukan jendela dapat menghentikan gangguan itu. Jika suatu tugas yang sulit dapat mengecewakan murid. Maka guru dapat mengganti denga tugas yang begitu sulit . jika di kelas ada murid yang termenung saja, guru dapat menghampiri atau duduk di dekatnya.
d.               Hukuman
         Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya di terapkan di keas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tak di inginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu di sertai dengan reinforcemen. Hukuman menunjukkan apa yang tak boleh di lakuka murid , sedangkan reward menunjukkan apa yang musty di lakukan murid.[8]
         Bukti menunjukkan, bahwa hukuman atas kelakuan murid yang tak pantas ., lebih efektif daripada tidak menghukum. Hukuman hendaknya dilaksanakan langsung, secara kalem, disertai reinforcement, dan konsisten.
e.                Langkah langkah dasar modifikasi tingkah laku
         Berikut ini adalah langkah –langkah bagi guru dalam mengadakan analisis dan modifikasi tingkah laku:
1)               Merumuskan tingkah laku yang diubah secara operasional.
2)               Amatilah frekwensi tingkah laku yang perlu di ubah.
3)               Ciptakan situasi belajar atau streatment sehingga terjadi tingkah laku yang di inginkan .
4)               Identifikasilah reinforcers yang potensial.
5)               Perkuatlah tingkah laku yang di inginkan., dan jika perlu gunakan prosedur prosedur untuk memperbaiki tingkah laku yang tidak pantas.
6)               Rekan/catatlah tingkah laku yang di perkuat untuk menentukan kekuatan kekuatan atau frekuensi respons yang telah di tingkatkan.[9]



5.      Kelebihan dan kekurangan teori belajar behavioristik
1.      Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

2.      Kekurangan [10]
Beberapa kelemahan  dari teori ini berdasarkan analisa teknologi adalah bahwa:
1)      teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis,
2)      keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian.
Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebut akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
         Behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori ini memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
a.       Obyek psikologi adalah tingkah laku
b.      Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek
c.       Mementingkan pembentukan kebiasaan

SARAN
          Demikianlah apa yang bisa kami paparkan dan kami sampaikan, terkait dengan makalah yang kami sajikan dalam memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan.Yang di bimbing oleh bapak dosen : Ka’Anto.M.S.I . mudah-mudahan apa yang kami tulis dan paparkan dalam makalah ini dapat memberi manfaat , maslahat dan faedahnya. Dan dengan segala kerendahan hati, barang kali di sana-sini ada banyak hal dan kekurangan yang perlu di perbaiki serta di benahi, tentunya kritik dan saran serta koreksi sangat kami harapkan. Dengan kajian dan pembahasan ini pula kita semua berharap smoga dan mudah-mudahan diberi Oleh ALLAH ,suatu anugrah terbukanya hati, dan bila ada kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhiru Qouli Hadza Wal’afu mingkum.       Wassalamualaikum. Wr.Wb.

DAFTAR PUSTAKA

M.Dalyono, Psikologi Pendidikan  . (Rineka Cipta: Jakarta)…,
Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: P3G IKIP)
Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan degan pendekatan baru (Raja Grafindo Persada)…,
Sagala, syaiful, konsep dan makna pembelajaran, (Bandung Alfabeta 2011)
Soemanto, wasty. Psikologi pendidikan: landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka cipta: Jakarta,2012)





[1] Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: P3G IKIP) Hlm7.
[2] Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…, hlm. 103-104.
[3] Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…, hlm. 104-106.
[4] Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…, hlm. 106-107.
[5] Dalyono, Psikologi Pendidikan(Rineka Cipta: jakatra)…, hlm. 33.

[6] Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru(Raja grafindo Persada)…, hlm. 108.
[7] Soemanto, wasti. Psikologi pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka Cipta:Jakarta,2012)hal 216
[8] Soemanto, wasti. Psikologi pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka Cipta:Jakarta,2012)hal 217

[9] Soemanto, wasti. Psikologi pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka Cipta:Jakarta,2012)hal 218
[10] Sagala, syaiful, konsep dan makna pembelajaran, (Bandung Alfabeta 2011)

1 comment:

Anonymous said...

Blackjack - DMC
Learn the basics of 제천 출장마사지 playing Blackjack at the home of our great dealers. We've 전라북도 출장마사지 got blackjack tables in 나주 출장샵 all of the states across the USA. 안양 출장마사지 Click 대전광역 출장샵 on the image below to find out more.

makalah pemikiran kearah aplikasi psikologi pendidikan

PEMIKIRAN KE ARAH APLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR (Implikasi teori teori belajar psikologis behavioristik) Di susun guna memenuhi tugas ...