PEMIKIRAN
KE ARAH APLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR
(Implikasi
teori teori belajar psikologis behavioristik)
Di
susun guna memenuhi tugas
mata
kuliah : Psikologi Pendidikan
Di
susun oleh :
1. M. Kustiyono (NIM : 113143)
1. M. Kustiyono (NIM : 113143)
2.
Dwi Haryanti (NIM : 113225)
FAKULTAS
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM PATI
2014
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr. wb
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah
SWT, karna dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi ksehatan dan
ksempatan untuk mnyelesaikan makalah ini tidak lupa kami ucapkan terimakasih
pada teman teman yang telah memberikan dukungannya dalam mnyelesaikan makalah
ini terutama pada Ka’anto, M.S.I selaku
dosen yang selalu memberikan motifasi pada kami.
Kami kelompok 9 mnyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun. Dan smoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat
bagy pembaca dan teman-teman. Amin...
Pati, desember 2014
Penulis ..,
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan
perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons,
maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan
oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini, terlihat bahwa peran guru
dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru.
Pembelajaran
dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks, tanpa
mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa
hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang
bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut
apa yang ditentukan.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat rumusan masalah, yaitu sebagai berikut :
1.
Bagaimana
pengertian teori belajar behavioristik ?
2.
Bagaimana
implikasi/aplikasi teori belajar behavioristik ?
3.
Bagaimana
cirri-ciri teori belajar behavioristik ?
4.
Bagaimana
prinsip-prinsip teori belajar behavioristik ?
5.
Bagaimana
kelebihan dan kekurangan teori belajar behavioristik ?
A.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
penulisan dari rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui sberapa dalam teori belajar behavioristik,..
2.
Untuk memahami
aplikasi-aplikasi teori belajar behavioristik…,,
3.
Untuk mengetahui
cirri-ciri teori belajar behavioristik…,,
4.
Untuk
menguasai berbagai prinsip-prinsip teori belajar behavioristik..,,
5.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kelemahan sistem belajar behavioristik…,,
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian teori belajar behavioristik
Behaviorisme
adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori ini
memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap
lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Salah satu ciri dari teori behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan
bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan
pembentukan reaksi atau respon, sehingga hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diinginkan.
Pada teori
belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia
dikendalikan oleh ganjaran atau reward
dan penguatan atau reinforcement dari
lingkungan. Sehingga teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori
belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar[1]
2.
Implikasi/aplikasi
teori belajar behavioristik
Berangkat dari
asumsi bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi
antara stimulus dengan respons, maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai
sebuah aktivitas alih pengetahuan (transfer
of knowledge) oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini,
terlihat bahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Jika terjadi perubahan perilaku yang tidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikan ganjaran.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Jika terjadi perubahan perilaku yang tidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikan ganjaran.
Pembelajaran
dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks, tanpa
mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa
hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang
bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut
apa yang ditentukan.
Mengacu pada
berbagai argumentasi yang telah dipaparkan, maka secara ringkas implikasi teori
behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a.
Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa
b.
Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.
c.
Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang
terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.
d.
Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan
pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.
e.
Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan
dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau
kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
f.
Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil
test dan menuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Dengan demikian, evaluasi
lebih ditekankan pada hasil dan bukan pada proses, atau sintesis antara
keduanya
A.
Koneksionisme
Teori koneksionisme (connectionism)
adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949)
berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an yang menggunakan
hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Berdasarkan
eksperimennya, Thorndike menyimpulkan bahwa belajar adalah hubungan antara
stimulus dan respons. Itulah sebabnya, koneksionisme juga disebut “S-R Nond
Theory” dan “S-R Psychology of Learning”. Di samping itu, teori ini juga
terkenal dengan sebutan “Trial and Error Leraning”. Istilah ini menunjuk pada
panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan.
Dari penelitiannya itu, Thorndike
menemukan hukum-hukum sebagai berikut:
(1) Law of effect yaitu jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, hubungan antara stimulus dengan respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan
(menggangu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula hubungan stimulus dan
respons tersebut.
(2) Law of readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya
merupakan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan
conductions unit (satuan perantaraan). Unit-unit ini menimbulkan kecenderungan
yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Jelas, hukum
ini semata-mata bersifat spekulatif yang menurut Reber (1988), hanya bersifat
historis.
(3) Law of exercise (hukum pelatihan) ialah generalisasi in law of use and law of disuse. Menurut Hilgard &
Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau
digunakan maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (law of use). Sebaliknya, jika perilaku
tadi tidak sering dilatih atau tidak digunkan maka perilaku tersebut akan
terlupakan atau sekurang-kurangnya akan menurun (law of disuse).[2]
B.
Pembiasaan Klasik
Teori pembiasaan klasik (classical
conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh
Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil menggondol
hadiah Nobel pada tahun 1909. Pada dasarnya classical conditioning adalah
sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus
sebelum terjadinya reflek tersebut (Terrace, 1973).
Dalam eksperimennya, Pavlov
menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioned
stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan
Unconditioned-response (UCR). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan
respons yang dipelajari, sedangkan respons
yang dipelajari itu sendiri disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan
yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari, dan respons yang tidak
dipelajari itu disebut UCR.
Berdasarkan eksperimen Pavlov
menyimpulakan bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya
hubungan antara stimulus dan respons. Apabila stimulus yang diadakan (CS)
selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi (CS) cepat atau
lambat akhirnya akan menimbulkan respons atau perubahan yang kita kehendaki
yang dalam hal ini CR.[3]
C.
Pembiasaan Perilaku Respons
Teori pembiasaan perilaku respons
(operant conditioning) ini diciptakan oleh Burrhus Frederic Skinner (lahir
tahun 1904). Tema pokok yang mempengaruhi karya-karyanya adalah bahwa tingkah
laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah
laku itu sendiri (Bruno, 1987).
“Operant”
adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap
lingkungan yang dekat (Rober, 1988). Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus,
melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce.
Reinforce sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kamungkinan
timbulnya sejumlah respons tertentu.
Dalam eksperimennya, Skinner
menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian
terkenal dengan nama “Skinner box”. Eksperimen yang dilakukan Skinner mirip
sekali dengan trial and error learning yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hal
ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan
satisfaction/kepuasan, sedangkan menurut Skinner fenomena tersebut melibatkan
reinforcement/penguatan.
Selanjutnya, proses belajar dalam
teori operant conditioning juga
tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda, yakni: law of operant conditioning dan law
of operant extinction. Menutut law of
operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan
stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat.
Sebaliknya, menurut law of operant
extinction, jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak
diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah
(Hintzman, 1987). Hukum-hukum ini pada dasarnya sama saja dengan hukum-hukum
yang melekat dalam proses belajar menurut teori pembiasaan yang klasik.[4]
Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin
respon-respon terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi
terhadap stimulus, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah
tujuan behavior. Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan
mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.[5]
Teori-teori belajar hasil eksperimen
Thorndike, Skinner, dan Pavlov di atas, jika renungkan dan bandingkan dengan
teori dan juga riset psikologi kognitif, mengandung banyak kelemahan,
diantaranya:
a.
Proses itu dapat diamati secara
langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya;
b. Proses belajar itu bersifat
otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti mesin dan robot, padahal setiap
siswa memiliki self-direction (kemampuan mengarahkan diri) dan self control
(pengendalian diri) yang bersifat kognitif, dan karenannya ia bisa menolak
merespons jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan
dengan kata hati;
c.
Proses belajar manusia yang
dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat
mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dengan hewan.[6]
3. Cirri-ciri
teori belajar behavioristik
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang
memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan
aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya
kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa
belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi
kebiasaan yang dikuasai individu.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus
dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika
dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar
yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon
berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting
untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan
oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat
diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik
adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
4. Prinsip
prinsip teori belajar behavioristik
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
a. Obyek psikologi adalah tingkah laku
b. Semua bentuk tingkah laku dikembalikan
pada reflek
c. Mementingkan pembentukan kebiasaan
Aristoteles
berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti
sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Menurut John
Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir manusia tidak
mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman.
Pengalaman
adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah
produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia,
kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi. Pikiran dan
perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu.
Kesulitan dalam
menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang
mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme,
memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan
dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan.
perilaku adalah
hasil pengalaman dan prilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk
memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Aliran behavioristik yang
lebih bersifat elementaristik
memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh
stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat
dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol
stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya
a.
Memperkuat
tingkah laku
Dalam usaha mengubah tingkah laku yang
tak di inginkan, di adakan penguatan tingkah laku yang di ingnkan , misalnya
dengan kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi
kelakuan-kelakuan menentang, melamun, dan hilir mudik.[7]
b.
Ekstingsi
Ekstingsi yaitu kegiatan atau suatu
usaha membuang/meniadakan peristiwa peristiwa penguat tingkah laku , guru guru
sering mengalami kesulitan mengadakan eksiting karena mereka harus belajar
mengabaikan suatu hal , tentu saja ada jenis jenis tingkah laku yang tak dapat
di abaikan oleh guru guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan
murid-murid. Eksiting berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan kesana
kemari, maka perubahan interaksi guru-guru murid, guru akan menghentikan
tingkah laku murid tersebut.
c.
Perubahan
lingkungan stimuli
Beberapa tingkah laku dapat
dikendalikan oleh perubahan kondisi stimulis yang mempengaruhi tingkah laku
itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh di luar kelas , ketukan jendela
dapat menghentikan gangguan itu. Jika suatu tugas yang sulit dapat mengecewakan
murid. Maka guru dapat mengganti denga tugas yang begitu sulit . jika di kelas
ada murid yang termenung saja, guru dapat menghampiri atau duduk di dekatnya.
d.
Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku,
hukuman hendaknya di terapkan di keas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi
tingkah laku yang tak di inginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu di
sertai dengan reinforcemen. Hukuman
menunjukkan apa yang tak boleh di lakuka murid , sedangkan reward menunjukkan apa yang musty di lakukan murid.[8]
Bukti menunjukkan, bahwa hukuman atas
kelakuan murid yang tak pantas ., lebih efektif daripada tidak menghukum.
Hukuman hendaknya dilaksanakan langsung, secara kalem, disertai reinforcement,
dan konsisten.
e.
Langkah
langkah dasar modifikasi tingkah laku
Berikut ini adalah langkah –langkah
bagi guru dalam mengadakan analisis dan modifikasi tingkah laku:
1)
Merumuskan
tingkah laku yang diubah secara operasional.
2)
Amatilah
frekwensi tingkah laku yang perlu di ubah.
3)
Ciptakan
situasi belajar atau streatment sehingga
terjadi tingkah laku yang di inginkan .
4)
Identifikasilah
reinforcers yang potensial.
5)
Perkuatlah
tingkah laku yang di inginkan., dan jika perlu gunakan prosedur prosedur untuk
memperbaiki tingkah laku yang tidak pantas.
6)
Rekan/catatlah
tingkah laku yang di perkuat untuk menentukan kekuatan kekuatan atau frekuensi
respons yang telah di tingkatkan.[9]
5. Kelebihan
dan kekurangan teori belajar behavioristik
1. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya.
hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung
dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan
terjadinya kesalahan.
2. Kekurangan
[10]
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi adalah bahwa:
1) teknologi untuk situasi yang kompleks
tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis,
2) keseringan respon sukar diterapkan pada
tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian.
Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan
dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan.
hal tersebut akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan
melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman
sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman
yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya
anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan.
Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan,
cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori ini
memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap
lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
a. Obyek psikologi adalah tingkah laku
b. Semua bentuk tingkah laku dikembalikan
pada reflek
c. Mementingkan pembentukan kebiasaan
SARAN
Demikianlah apa yang bisa kami
paparkan dan kami sampaikan, terkait dengan makalah yang kami sajikan dalam
memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan.Yang di bimbing oleh bapak
dosen : Ka’Anto.M.S.I . mudah-mudahan apa yang kami tulis dan paparkan dalam
makalah ini dapat memberi manfaat , maslahat dan faedahnya. Dan dengan segala
kerendahan hati, barang kali di sana-sini ada banyak hal dan kekurangan yang
perlu di perbaiki serta di benahi, tentunya kritik dan saran serta koreksi
sangat kami harapkan. Dengan kajian dan pembahasan ini pula kita semua berharap
smoga dan mudah-mudahan diberi Oleh ALLAH ,suatu anugrah terbukanya hati, dan
bila ada kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhiru Qouli Hadza
Wal’afu mingkum. Wassalamualaikum.
Wr.Wb.
DAFTAR PUSTAKA
M.Dalyono, Psikologi
Pendidikan . (Rineka Cipta: Jakarta)…,
Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: P3G IKIP)
Muhibbinsyah, Psikologi
Pendidikan degan pendekatan baru (Raja Grafindo Persada)…,
Sagala, syaiful, konsep dan makna pembelajaran, (Bandung
Alfabeta 2011)
Soemanto, wasty. Psikologi
pendidikan: landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka cipta: Jakarta,2012)
[1]
Mukminan.
1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: P3G IKIP) Hlm7.
[2]
Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan
pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…,
hlm. 103-104.
[3]
Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan
pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…,
hlm. 104-106.
[4]
Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan
pendekatan baru(Raja Grafindo Persada)…, hlm. 106-107.
[5]
Dalyono, Psikologi Pendidikan(Rineka
Cipta: jakatra)…, hlm. 33.
[6]
Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan
pendekatan baru(Raja grafindo Persada)…, hlm. 108.
[7]
Soemanto, wasti. Psikologi
pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka
Cipta:Jakarta,2012)hal 216
[8]
Soemanto, wasti. Psikologi
pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka
Cipta:Jakarta,2012)hal 217
[9]
Soemanto, wasti. Psikologi
pendidikan:landasan kerja pemimpin pendidikan,(Rineka
Cipta:Jakarta,2012)hal 218
[10]
Sagala, syaiful, konsep dan makna
pembelajaran, (Bandung Alfabeta 2011)

1 comment:
Blackjack - DMC
Learn the basics of 제천 출장마사지 playing Blackjack at the home of our great dealers. We've 전라북도 출장마사지 got blackjack tables in 나주 출장샵 all of the states across the USA. 안양 출장마사지 Click 대전광역 출장샵 on the image below to find out more.
Post a Comment